Degradasi Generasi Islam dan Momentum Idul Fitri sebagai Titik Perbaikan
Oleh: Ustad Suryadin Ahmad LC,MA

Alhamdulillah kita kita sudah di babak akhir dari pada musim ibadah di bulan
ramadan, semoga Allah memasukkan kita kepada golongan orang yang bertaqwa
sebagaimana firmannya……
Semoga Allah mencatatkan nama kita di pintu yang Allah khususkan kepada
orang-orang yang berpuasa yaitu pintu ar-rayan….
Semoga ibadah di bulan ramadan berlanjut dan menjadi cerminan untuk sebelas
bulan berikutnya hingga datang kenikmatan ramadan berikutnya….
Itulah keutamaan dan harapan insan beriman ketika tamat dari bulan ramadan,
mendapatkan pahala yang berlimpah atas shiyam dan qiyamnya dan berharap
datang musim ibadah berikutnya….
Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan sebagian manusia ‘bagi mereka ada
atau tidak ada sama saja, tidak ada perasaan bahagia, rindu atau memaknainya
dengan ibadah yang ikhlas, justru di tengah siang bolong bulan ramadan, mereka
bertingkah seakan di luar bulan ramadan, siangnya mereka makan malamnya
mereka tidur.
Hal tersebut di atas bisa jadi indikasi bahwa manusia tersebut telah terjatuh kepada
kefuturan atau putus asa dar rahmat Allah, atau bahkan bodoh memaknai akhirat.
Maka ini menjadi indikasi generasi yang terdegradasi atau penurunan kondisi
keimanan dan keislaman seseorang.
Degradasi yang perlu kita persiapkan obat dan penawarnya agar generasi kita
terhindar dari padanya. Sekaligus sebagai diagnosa iman kita agar lebih waspada
akan futur / putus asa dari rahmat Allah.
Nubuwat nabi tentang keadaaan umat yang terdegradasi telah beliau sabdakan
sebagai landasan diagnosa preventif oleh umatnya.
Rasulullah bersabda :

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersegeralah kalian
melakukan amal-amal (shalih) sebelum datang fitnah-fitnah seperti potongan malam
yang gelap. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman, lalu di sore hari menjadi
kafir. Atau di sore hari beriman, lalu di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya
dengan sedikit kenikmatan dunia.” (HR. Muslim: 118)

“(Maknanya) seseorang di pagi hari mengharamkan apa yang Allah haramkan, lalu di
sore hari ia menghalalkannya. Atau sebaliknya.

“menjual agamanya dengan dunia” Maksudnya: Ia meninggalkan agamanya dengan
imbalan harta dunia yang rendah dan hina.
Hadits tentang perubahan iman secara drastis (“pagi beriman, sore kafir”)
Seseorang tidak lagi menjadikan agama sebagai acuan dalam berkehidupan yang
permanen, akan tetapi tunduk pada dinamika kepentingan dan dorongan nafsu.
Hadis ini menjelaskan bagaimana degradasi internal pribadi yang kurang
beramal gampang terombang ambing ditengah godaan dunia.

Dari Abdullah ibn Amr ibn al-As رضي الله عنهما, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia.
Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak
tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh.
Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR.
Bukhari : 100)
Ketika ulama sebagai penjaga otoritas ilmu hilang, ruang tersebut diisi oleh
individu yang tidak memiliki kompetensi. kemudian munculnya apa yang dapat
disebut sebagai “pendusta agama”, yaitu individu atau kelompok yang:
Mengatasnamakan agama tanpa landasan ilmu yang sahih, Memproduksi narasi
keagamaan yang menyimpang atau manipulatif. Dalam situasi ini, kebenaran tidak
lagi diverifikasi melalui metodologi ilmiah, tetapi melalui popularitas, retorika dan
afirmasi.

Dari Anas ibn Malik dan Abu Hurairah رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan
datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya: Orang berdusta dipercaya,
orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dianggap
pengkhianat, dan berbicaralah ‘ruwaibidhah’.” Para sahabat bertanya: “Apa itu
ruwaibidhah?” Beliau menjawab: “Orang yang hina dan bodoh, tetapi berbicara dalam
urusan umum (umat).” (HR. Ibnu Majah : 4036)
Hadits tentang “tahun-tahun penuh tipu daya” menunjukkan fenomena
pembalikan nilai sosial. Dalam kondisi ini, indikator moral tidak lagi objektif
berdasarkan agama, melainkan relatif dan dipengaruhi oleh persepsi sosial. Ciri
utamanya: membenarkan kebohongan, antipati terhadap kejujuran, sehingga
makna amanah dan khianat mulai kabur.
(Langkah-langkah Perbaikan Generasi)
Hadirin jamaah idul fitri yang dimuliakan Allah…

Namun di tengah keadaan tersebut isalam tidak pernah kehilangan solusi, islam
adalah jawaban atas segala problematika kehidupan solusi
Allah berfirman dalam Surat Maryam ayat 58-60:

Terjemahan Kemenag 2019
- Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yakni para nabi
keturunan Adam, orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, keturunan
Ibrahim dan Israil (Ya‘qub), serta orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih.
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka tunduk,
sujud, dan menangis. - Kemudian, datanglah setelah mereka (generasi) pengganti
yang mengabaikan salat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat. 60.
Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, mereka akan masuk surga dan tidak dizalimi sedikit pun.
Solusi pertama. Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah
Di dalam ayat tersebut menampilkan ciri generasi ideal yang responsif terhadap
wahyu (tunduk, sujud, menangis) Menjadikan wahyu sebagai pusat kesadaran
diri.

Sabda Nabi ﷺ: “Maka sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup
(sepeninggalku), ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian
berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat
petunjuk. Gigitlah (peganglah) ia dengan gigi geraham kalian (dengan sangat kuat).”
(HR. Ad-drimi : 96)
Ketika fitnah meraja lela, ilmu yand benar hilang, keadaan bertambah buruk
dengan hilangnya kompas moral dan kebaikan pada saat itu muncul perselisihan
yang tak berujung, maka solusinya adalah kembali kepada Al-Quran dan Assunah.
Solusi kedua: Segeralah Beramal
Segeralah melakukan amal, utamanya amalan shalat, sebagaimana terdapat pada
firman Allah ayat 59, bahwa jika sahalat dilalaikan maka gampang terombang
ambing oleh kemaksiatan, jika hati dikuasai oleh kemaksiatan itu tanda bahwa
syaitan sudah bertahta di hati seorang muslim. Jangan lalaikan shalat jadikan lah
shalat sebagai penujuk arah kehidupan, sebagaimana nabi ketika di puncak
kesedihannya Allah berikan shalat dan mi’rajnya ke langit ketujuh.
Solusi ketiga: Bertaubat, ertebal keimanan dan istiqamah diatas amal
shaleh.
Bisr al-hafi pernah ditanya oleh muridnya tentang manusia yang hanya mengenal
Allah di bulan ramadan, tetapi di luar bulan ramadan tidak lagi beribadah seakan
ramadan tak berbekas. Ia pun menjawab “seburuk-buruk manusia adalah yang
hanya mengenal Allah di bulan ramadan”.
Maka istiqamahlah pada taubat dan keimananmu. Bersungguh-sungguhlah pada
taubat dan amal shaleh. Sebagaimana tercantum pada ayat 60 dari surat maryam.
Yang didapat oleh generasi terbaik adalah surga yang dijanjikan oleh allah dan
diampunkan segala kekukrangan dan kealpaan saat futur dan terdegradasi. Allah
berfirman

“Mereka akan masuk surga dan tidak dizalimi sedikit pun.” (Maryam: 60)
Khutbah kedua



Wassalamuallaikum Wr, Wb